kesyukuran pada Illahi
mnasiralqaswa | March 7, 2010Pelangi kehidupan yang perlu sahabat Syukuri
Sekadar satu renungan buat sahabat2 alam maya yang dikasihi sekelian……
Hari ini sebelum sahabat2 semua merapatkan kepala di tilam empuk masing2,sekadar mengimbau kembali kehadiran diri ini buat menumpang sekejap cuma di bumi Illahi ini….semuga natijah kesyukuran akan tertanam di jiwa nurani ini…
Hari ini sebelum sahabat2 berfikir untuk mengucapkan kata-kata kasar dari lidah tanpa tulang yang di kurniai Illahi– Ingatlah akan seseorang insan yang tidak bisa berbicara(bisu)
Hari ini sebelum sahabat2 mengeluh mengenai cita rasa makanan yang sahabat2 nikmati – Ingatlah akan seseorang insan yang tidak punya sesuatu apapun untuk dimakan.
Hari ini sebelum sahabat2 semua mengeluh tentang kekurangan pasangan yang kita punyai – Ingatlah akan seseorang insan yang menangis dan berdoa kepada Tuhan meminta pasangan hidup.
Hari ini sebelum sahabat2 semua mengeluh tentang kekurangan dalam hidup kita – Ingatlah akan seseorang insan yang begitu cepat telah berpindah alam ke alam Baqa.
Hari ini sebelum sahabat2 mengeluh tentang kerenah saudara-saudara kita – Ingatlah akan seseorang insan yang begitu mengharapkan mempunyai saudara, tetapi hanya hidup sebatang kara.
Hari ini sebelum sahabat2 bertengkar karena rumah yang kotor,tidak terurus dan tidak ada insan yang mau membersihkan atau menyapu lantai halaman – Ingatlah akan insan-insan yang hidup di jalanan kota beratapkan langit.
Hari ini sebelum sahabat2 mengeluh karena harus memandu kenderaan terlalu jauh kerana sesuatu urusan – Ingatlah akan sesorang insan yang harus berjalan kaki untuk menempuh jarak yang sama.
Hari ini ketika sahabat2 merasa lelah dan mengeluh tentang pekerjaan kita masing-masing – Ingatlah akan para pengangur, orang-orang kurang upaya, cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaan itu.
Hari ini sebelum sahabat2 menuding jari atau menyalahkan orang lain – Ingatlah bahwa tidak ada seorang insan pun yang sempurna dan tidak berdosa dan kita semua harus menghadapi pengadilan serta penghisaban di mahkamah Robbuljalil di hari qiamat nanti.
Hari ini ketika bebanan kehidupan tampaknya akan merenggangkan sahabat2 sekelian – Ukirlah senyuman di wajah sahabat2 masing2 dan berterima kasihlah pada Allah s.w.t karena kita semua masih diberi kesempatan menarik nafas dan masih ada di dunia yang fana ini.
Kehidupan adalah anugerah Illahi yang hebat maka jalanilah,terokailah dan nikmatilah dengan penuh rasa syukur yang mendalam pada Illahi.
Semuga dengan warkah pelangi zikrullah yang singkat bersama alqaswa ini menjdikan diri sahabat2 lebih bermakna dan tabah dalam pengembaraan di alam fana ini.
Salam takzim penuh erti dari alqaswa yang fakir ini..
Hadiahkan sebuah senyuman sebagai sedekah di petang yang damai ini…
Wassallam jumpa lagi…
Sayangi Rasulullah s.a.w
mnasiralqaswa | March 5, 2010
Segala puji bagi Allah s.w.t, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad s.a.w ,nabi akhir zaman, kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.
Bersempena dengan bulan maulud baginda Nabi Muhammad s.a.w ini ,setiap hari kedengaran laungan selawat berkumandang di Masjid-masjid,surau-surau serta rumah-rumah persendirian,malah di jalanan-jalanan turut tidak terkecuali umat ini meluahkan laungan kecintaan kepada baginda Rasulullah s.a.w.
Alqaswa merasa terpanggil untuk membicarakan tentang kecintaan serta kesayangan umat ini khususnya kepada baginda rasulullah s.a.w. Pelbagai macam dan cara seseorang hamba itu akan mencurahkan bentuk usaha untuk membuktikan cintanya pada kekasihnya. Begitu pula kecintaan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap umat punya dimensi yang berbeza untuk membuktikan cintanya pada baginda s.a.w. Namun tidak semua cara tersebut benar mengikut syariat, ada diantaranya yang menyalahi syariat. Itulah yang nanti yang akan diutarakan pada paparan kali ini. Semuga Allah s.w.t menjernihkan minda kita semua serta memberi kefahaman yang sebenar tentang bab ini.
Begitu perlunya kita sebagai seorang umat yang begitu prihatin tentang kewajiban mencintai Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi memperolehi keberkatan hidup didunia yang fana ini serta memperolehi anugerah syafaat Baginda Rasulullah s.a.w di negeri akhirat yang kekal nanti,sehingga termaktub dalam alquran tentang perkara ini.Dalam satu firmannya.
Allah s.w.t berfirman,
قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khuwatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah: 24). Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya s.a.w, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa umat.” Ancaman keras inilah yang menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah s.a.w daripada segala makhluk yang lainnya adalah wajib.
Bahkan tidak boleh seseorang itu mencintai dirinya sendiri hingga melebihi kecintaan pada nabinya. Allah Ta’ala berfirman,
النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. Al Ahzab: 6). Syihabuddin Al Alusi rahimahullah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memerintahkan sesuatu dan tidak ridho pada umatnya kecuali jika ada maslahat dan mendatangkan keselamatan bagi mereka. Berbeda dengan jiwa mereka sendiri. Jiwa tersebut selalu mengajak pada keburukan.” Oleh karena itu, kecintaan pada beliau mesti didahulukan daripada kecintaan pada diri sendiri.
‘Abdullah bin Hisyam berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau memegang tangan Umar bin Khathab radhiyallahu ’anhu. Lalu Umar berkata, ”Wahai Rasulullah s.a.w, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali terhadap diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
لاَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ
”Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya (imanmu belum sempurna). Tetapi aku harus lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Kemudian ’Umar berkata, ”Sekarang, demi Allah. Engkau (Rasulullah) lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Saat ini pula wahai Umar, (imanmu telah sempurna).”
Mengapa umat ini harus Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Semakin sempurna orang yang dicintai, maka di situlah tempat tumbuhnya kecintaan. Sedangkan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam adalah manusia yang paling luar biasa dan sempurna dalam akhlaqnya, kepribadiannya, sifat dan dzatnya. Di antara sifat beliau adalah begitu sayang dan cinta pada umatnya, begitu lembut dan kasih pada umatnya. Sebagaimana Allah Ta’ala mengambarkan sifat beliau dalam firman-Nya,
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
”Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah: 128)
Ganjaran dan natijah dari kecintaan umat ini kepada Baginda s.a.w.
1) Mendapat anugerah kemanisan iman.
Dari Anas radhiyallahu ’anhu , Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Tiga perkara yang membuat seseorang akan mendapatkan manisnya iman yaitu: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya; mencintai saudaranya hanya karena Allah; dan benci kembali pada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan dalam api neraka.”
2).Akan menjadikan seseorang bersama beliau di akhirat.
Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bila akan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta pada Allah s.w.t dan Rasul-Nya s.a.w.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”
Dalam riwayat lain, Anas mengatakan, “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).” Anas pun mengatakan, “Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”
3) Akan memperoleh kesempurnaan iman
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Seseorang tidaklah beriman (dengan sempurna) hingga aku lebih dicintainya dari anak dan orang tuanya serta manusia seluruhnya.”
Dengan sandaran inilah tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak mencintai baginda Nabi s.a.w.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Asy Syafi’i rahimahullah,
“Kaum muslimin telah sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena perkataan yang lainnya.”
Membenarkan segala yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam
Termasuk prinsip keimanan dan pilarnya yang utama ialah mengimani kemaksuman Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dari dusta atau buhtan (fitnah) dan membenarkan segala yang dikabarkan beliau tentang perkara yang telah berlalu, sekarang, dan akan datang. Karena Allah Ta’ala berfirman,
وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى (1) مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
”Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An Najm: 1-4)
3): Beradab di sisi Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam
Di antara bentuk adab kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah memuji beliau dengan pujian yang layak baginya. Pujian yang paling mendalam ialah pujian yang diberikan oleh Rabb-nya dan pujian beliau terhadap dirinya sendiri, dan yang paling utama adalah shalawat dan salam kepada beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ
“Orang yang bakhil (kedekut) adalah orang yang apabila namaku disebut di sisinya, dia tidak bershalawat kepadaku.”
4): Ittiba’ (mencontoh) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berpegang pada petunjuknya.
Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.” (QS. Ali Imron: 31)
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ
“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), janganlah membuat bid’ah. Karena (ajaran Nabi) itu sudah cukup bagi kalian. Semua amalan yang tanpa tuntunan Nabi (baca: bid’ah) adalah sesat .”
5): Berhukum kepada ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam
Sesungguhnya berhukum dengan ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah salah satu prinsip mahabbah (cinta) dan ittiba’ (mengikuti Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam). Tidak ada iman bagi orang yang tidak berhukum dan menerima dengan sepenuhnya syari’atnya. Allah Ta’ala berfirman,
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)
Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Setiap orang yang keluar dari ajaran dan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Allah telah bersumpah dengan diri-Nya yang disucikan, bahwa dia tidak beriman sehingga ridha dengan hukum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala yang diperselisihkan di antara mereka dari perkara-perkara agama dan dunia serta tidak ada dalam hati mereka rasa keberatan terhadap hukumnya.”
6) Membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Membela dan menolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salah satu tanda kecintaan dan kesayangan pada baginda. Allah Ta’ala berfirman,
لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hasyr: ![]()
Bentuk membela Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam merangkumi beberapa hal, di antaranya:
Membela para sahabat Nabi –radhiyallahu ’anhum-
Rasulullah shallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
”Janganlah mencaci maki salah seorang sahabatku. Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak menyamai satu mud (yang diinfakkan) salah seorang mereka dan tidak pula separuhnya.”
Di antara hak-hak para sahabat adalah mencintai dan meridhoi mereka. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr: 10)
Sungguh malang sekali jika ada umat ini yang sanggup mencela para sahabat nabi s.a.w sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Syi’ah.
7): Membela ajaran (sunnah) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam
Termasuk membela ajaran beliau shallallahu ’alaihi wa sallam ialah memelihara dan menyebarkannya, menjaganya dari ulah kaum batil, penyimpangan kaum yang berlebih-lebihan dan ta’wil (penyimpangan) kaum yang bodoh, begitu pula dengan membantah syubhat kaum zindiq dan pengecam sunnahnya, serta menjelaskan kedustaan-kedustaan mereka. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam telah mendo’akan keceriaan wajah bagi siapa yang membela sunnah- sunnah ini dengan sabdanya,
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ فَرُبَّ مُبَلِّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ
“Semoga Allah memberikan kenikmatan pada seseorang yang mendengar sabda kami lalu ia menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya. Betapa banyak orang yang diberi berita lebih paham daripada orang yang mendengar.”[19]
8): Menyebarkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Di antara kesempurnaan cinta dan pengagungan kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ialah berkeinginan kuat untuk menyebarkan ajaran (sunnah)nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam perhimpunan di padang arafat (di haji Widak),
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” Yang disampaikan pada umat adalah yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan sesuatu yang tidak ada tuntunannya.
Bukti Cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bukanlah dengan Berbuat Bid’ah
Sebagaimana telah kami sebutkan di atas bahwa di antara bukti cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan menyebarkan sunnah (ajaran) beliau. Oleh karenanya, konsekuensi dari hal ini adalah dengan mematikan bid’ah, kesesatan dan berbagai ajaran menyimpang lainnya. Karena sesungguhnya melakukan bid’ah (ajaran yang tanpa tuntunan) dalam agama berarti bukan melakukan kecintaan yang sebenarnya, walaupun mereka menyebutnya cinta. Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”
Kecintaan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebenarnya adalah dengan tunduk pada ajaran beliau, mengikuti jejak beliau, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan serta bersemangat tidak melakukan penambahan dan pengurangan dalam ajarannya.
Penutup
Cinta pada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bukanlah hanya dengan merayakan Maulid. Hakikat cinta yang sebenar pada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah dengan mengikuti (ittiba’) setiap ajarannya dan mentaatinya sunnah-sunnahnya. Semakin seseorang mencintai Nabinya maka dia juga akan semakin mentaatinya. Dari sinilah sebagian salaf mengatakan:
لهذا لما كَثُرَ الأدعياء طُولبوا بالبرهان ,قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمْ اللَّهُ
Tatkala banyak orang yang mengaku mencintai Allah, mereka dituntut untuk mendatangkan bukti. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): ”Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31).
Orang yang mencintai baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah tentu hanya mau mengikuti ajaran yang beliau syariatkan dan bukan mengada-ada dengan melakukan amalan yang bertentangan dengan sunnahnya.
Semuga dengan paparan tentang kecintaan pada Baginda Rasulullah s.a.w di atas dapat membuka minda dan fikiran sahabat2 sekelian untuk membuat satu perubahan paradigma
kearah yang lebih positif untuk mengamalkan segala bentuk perintah-perintah dalam peribadatan khusus serta perlakuan-perlakuan sunnahnya yang merangkumi semua aspek kehidupan harian yang sahabat2 jalani selama ini.Kesabaran sahabat2 sekelian dalam mengamalkan sunnah Baginda s.a.w secara istiqomah sepanjang hayat akan memberi impak yang besar dalam kehidupan pribadi setiap muslim yang mana khusus di kurnia buat umat akhir zaman yang mengamal satu sunnah secara istiqomah akan di ganjari pahala seumpama 70 syahid,yang mana satu syahid sahaja di jalan Allah s.w.t akan di ampuni dosa sebelum darah yang mengalir jatuh kebumi.Subhanallah..begitu besar kurniaan Allah s.w.t bagi umat yang menumpahkan kecintaan dan kesayangan yang tak berbelah bagi pada Baginda Rasulullah s.a.w.
Setakat ini dulu yang alqaswa yang fakir ini mampu melabuhkan bicara,sebelum mengundur diri ku pohon keampunan dari Illahi dan kemaafan dari sahabat2 semua sekiranya ada sebarang kekhilafan dan kekurangan dimana-mana dan alqaswa sangat mengalu-alukan sebarang komentar positif dari sahabat alam maya sekelian dalam mencerahkan minda serta penjernihan jiwa umat.
Wassallam.








Recent Comments